Masa Kecil
Wiweko dilahirkan hari Kamis tanggal 18
Januari 1923 dari keluarga pegawai terpelajar di Kota Blitar, Jawa
Timur. Wiweko adalah anak pertama dari lima bersaudara. Wiweko mengikuti
pendidikan dasar di Europesche Lagere School (ELS). Saat orangtuanya
pindah ke Yogyakarta, Wiweko berkesempatan melihat kegiatan penerbangan
yang sering diadakan. Mulailah ketertarikannya pada dunia
penerbangan. Wiweko melanjutkan sekolah di HBS Bandung. Dengan berbekal
pedoman dari majalah Vliegwereld atau Dunia Penerbangan edisi
Hindia Belanda, Wiweko sudah membuat berbagai model pesawat pada masa
remajanya. Bahkan sebagian besar teman-temannya yang merupakan
orang-orang belanda sering berkumpul di pavilun rumah Wiweko untuk
membuat pesawat model. Banyak yang anak KNIL dan Militaire Luchvaart
(AU).
Setelah menyelesaikan sekolah di HBS
Bandung pada akhir Mei 1941, Wiweko masuk Technische Hoge School Bandung
yang sekarang disebut ITB. Jurusan yang dimasukinya adalah Teknik
Permesinan yang saat itu jumlah mahasiswanya baru 250 orang. Semasa
pendudukan Jepang Wiweko berhenti kuliah dan bekerja sebagai pegawai
Angkutan Darat di bagian Gudang. Kemudian pindah di laboratorium Uji
Coba materil THS.
Terlibat Perjuangan Kemerdekaan
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Wiweko
bersama tokoh-tokoh pemuda seperti Sarbini, Mashudi dan Nasution sepakat
mengambil alih kantor dan persenjataan Jepang serta membentuk BKR
setempat. Wiweko dengan teman-teman berhasil merebut Lapangan Udara
Andir. Mereka meminta Suryadarma yang mantan Militeire Luchvaart untuk
menerbangkan pesawat Jepang yang berhasil direbut. Suryadarma meminta
Wiweko dan Sutoyo segera pergi ke Bogor menemui Husein Sastranegara yang
lulusan Sekolah penerbang Kalijati.
Duo Nurtanio-Wiweko pada akhir tahun
1946 atau awal tahun 1947 berhasil membuat pesawat luncur NWG-1
(Nurtanio-Wiweko Glider) jenis “Zogling” yang berjasa dalam seleksi
calon siswa penerbang yang kemudian dididik di India. Sampai zaman
globalisasi dan internet sekarang, pesawat terbang layang tersebut belum
ada tandingan dalam segi keistimewaannya 100 persen dibuat dari
bahan-bahan yang tersedia di dalam negeri.
Bergerilya Lewat Angkasa
Kegiatannya di Myanmar meletakkan
landasan dasar penerbangan niaga yang kita kenal sekarang. Tanggal
pendirian tersebut di kemudian hari dijadikan hari jadi Garuda
Indonesia. Visi Wiweko menjadi kenyataan ia mendirikan maskapai
penerbangan Indonesian Airways, membuka lembar pertama era penerbangan
sipil/niaga Indonesia. Wiweko pun tidak pernah mimpi bakal memimpin
Garuda Indonesian Airways (1968-1984). Berangkat dari pengalaman
mengelola maskapai penerbangan di Myanmar dimana laporan keuangan rapi
dibuatnya sehingga mampu mengadakan dua pesawat tambahan, secara teratur
BUMN Garuda Indonesian Airways di bawah kepemimpinannya menerbitkan
buku Annual Report yang memuat posisi keuangan, rencana pengembangan
perusahaan, dan informasi lain yang dapat dipergunakan menganalisa
kondisi perusahaan secara menyeluruh.
Membangun AURI
Awal Juli 1950,Wiweko ditunjuk sebagai
Komandan Komando Teknik Udara di Andir Bandung dengan pangkat Komodor
Muda Udara. Wiweko juga merangkap sebagai Kepala Jawatan Teknik Udara.
Wiweko bersama Ir.Karno Barkah membangun sebuah Pusat Teknik Udara di
Lanud Andir, Bandung. Kemudian membangun Lanud Margahayu sebagai
Pangkalan kegiatan latihan tehnis bersama Ir.AR.Suhud.
Di pangkalan Udara Andir, Wiweko dan
rekan-rekan menyelenggarakan Sekolah Penerbang Kalijati, Sekolah
Penerbang Lanjutan, Fasilitas Overhaul di Andir serta Sekolah Terjun
Payung. Sebagai Koordinator Sekolah Penerbang, Wiweko mempekerjakan
sejumlah instruktur penerbang dan seorang teknisi berkebangsaan Amerika
mantan anggota “The Flying Tiger” yang pernah bekerja di Indonesian
Airways, Rangoon. Wiweko juga membentuk Djawatan Angkutan Udara Militer
untuk menunjang mobilitas pemerintah dan militer menjalin keutuhan tanah
air. Kembalinya Nurtanio dari sekolah Aeronautic di Filipina
memperkuat keinginan mereka untuk membuat pesawat sendiri untuk AURI dan
penerbangan sipil.
Biro Rencana dan Konstruksi AURI yang
dipimpinnya berhasil pula memodifikasi pembom Guntei peninggalan Jepang,
menjadi pesawat angkut dalam upaya untuk mempersiapkan bila
sewaktu-waktu didirikan penerbangan niaga atau penerbangan komersial
yang kita kenal sekarang.
Pilot Helikopter Pertama Indonesia
Saat pembelian helikopter Hiller, Wiweko
juga sempat belajar menerbangkannya di Palo Alto California. Tanggal 14
Oktober 1950 Wiweko dinyatakan lulus pendidikan dasar serta lanjutan
helikopter dan mendapat sertifikat serta wing penerbang helikopter dari
Civil Aeronautics Authority of the United States. Dengan ini Wiweko
menjadi penerbang helikopter pertama bangsa Indonesia. Saat enam
helicopter Hillet-360 UH tiba di Lanud Andir bulan Desember 1950,
keadaannya terurai dalam beberapa peti kemas. Wiweko ikut memberi
supervisi langsung selama perakitan. Dan uji coba penerbangan helikopter
pertama juga dilakukannya, karena dia satu-satunya penerbang helikopter
Indonesia saat itu.
Pagi 15 Januari 1951, Wiweko dan LMU I
Tosin terbang dengan helikopternya menuju Istana Negara. Hari itu
Wiweko membawa terbang keliling Jakarta, Bung Karno, Ibu Negara
Fatmawati, Mayjen Soehardjo, Kepala Bagian Siaran RRI dan teraktir
mengantar KASAU ke Kementrian Pertahaan di Jalan Medan Merdeka Barat.
Wiweko tercatat sebagai perancang helikopter kepresidenan tahun 1951.
Karena itu pula, saat itu Presiden Sukarno menjadi presiden pertama di
dunia yang memiliki helikopter.
Meraih Brevet Penerbang Militer
Di awal tahun 1951 KSAU Suryadarma
memberi kesempatan para perwira yang tugas di staf untuk mengikuti
pelatihan terbang. Agar mereka bisa menghayati dan mengerti perannya
dalam operasi udara. Namun tidak hanya mengikuti pelatihan dasar untuk
mendapat Wing penerbang Kelas III, Wiweko meneruskan hingga setingkat
lulusan Sekolah Penerbang Lanjutan. Setelah berlatih dengan pesawat
Piper Cup, Wiweko meneruskan dengan Harvard hingga transisi ke pesawat
B-25 Mitchell. Pada bulan April 1950 mendapat ijazah dan Wing Penerbang
Kelas II. Meskipun demikian Wiweko tidak pernah terdaftar sebagai
personel penerbang AURI.
Wiweko baru menikah dengan wanita
Aminah, yang lebih dikenal sebagai Mieke, pada tanggal 19 September
1951. Bahkan Istrinya yang tercinta inipun dilatihnya terbang dengan
pesawat Piper Cup, sehingga memperoleh Wing Penerbang Kelas III dari
aeroclub Aviantara. Tidak banyak diketahui masyarakat bahwa Mieke Wiweko
adalah penerbang wanita pertama Indonesia. Mieke tetap terbang hingga
pertengahan limapuluhan. Mereka dikaruniai dua putra dan seorang putri,
yaitu Sriyanto, Boedi Darma dan Siti Indrani.
Berpisah Dari AURI
Bulan April 1952, pada usia 29 tahun
lebih 3 bulan Komodor Muda Udara Wiweko mendapat promosi jabatan sebagai
jabatan sebagai Perwira Staf Teknik (Deputi Logistik KASAU). Namun
sayang pada pertengahan tahun 1953 Wiweko terpaksa tidak bisa aktif lagi
di AURI. Kebetulan ada beberapa politisi pusat dan perwira idealis yang
menyarankan pada Presiden agar Wiweko diangkat sebagai KASAU. Suatu hal
yang tidak disetujuinya karena mempolitisir urusan AURI. Namun
hubungannya dengan KASAU terlanjur memburuk.
Wiweko berusaha mengklarifikasi
berita-berita tidak benar tersebut, namun tanggal 27 Januari 1954 Wiweko
terkena status tahanan rumah. Tanggal 20 Maret 1954 statusnya dirubah
menjadi tahanan kota sampai dicabut tanggal 21 Juni 1955. Dipindahkan
ke staf Kementerian Pertahanan, Wiweko adalah satu-satunya perwira yang
tidak mau keluar dari AURI meski terkena dampak situasi konflik politik.
Akhirnya Wiweko yang diminta berhenti, ia bersedia asal disekolahkan
dengan biaya negara. Tahun 1956 pula berangkat di University of
California, Berkeley sebagai anggota staf Angkatan Perang RI. Wiweko
meraih gelar MBA dibidang transportation pada tahun 1959, serta sarjana
ekonomi pada tahun 1960. Selama kuliah Wiweko juga mendapat lisensi
Penerbang Komersial (CPL) dengan rating multi engine (1957). Tanggal 1
Juni 1960, Wiweko menerima lisensi yang sama dari jawatan Penerbangan
Sipil Indonesia. Bahkan saat di Amerika pula mendapat lisensi sebagai
penerbang layang dan Observer resmi dari Soaring Society Of America.
Terbang Melintasi Pasifik Seorang Diri
Sepulangnya dari tugas belajar di
Berkeley, Wiweko ditempatkan sebagai staf ahli Kepala Staf APRI. Namun
dia sempat menjadi penerbang pembasmi hama di perkebunan tembakau
PPN-Baru, Sumatera Utara antara Februari sampai dengan Juni 1961 dan
waktu yang sama tahun 1962. Mulai 1 November 1962, dengan gelar SE dan
MBA dari Berkeley, Wiweko diangkat menjadi dosen luar biasa pada FE-UI
Jakarta dengan mata kuliah Transportation Management. Pada 1
September 1963 diangkat sebagai Rektor Kepala Luar Biasa dengan mata
kuliah yang sama. Wiweko berhenti dari tugasnya sebagai dosen luar biasa
pada tanggal 1 Oktober 1967, sewaktu kesibukannya sebagai penerbang dan
pengelola penerbangan di Permina dan BI banyak menyita waktu dan
perhatiannya. Mulai tanggal 11 September 1963 Wiweko ditunjuk sebagai
Kepala Bagian Penerbangan PN Pertambangan Minyak Nasional (Permina).
Tanggal 1 April 1964 dia diangkat menjadi Penasihat Presiden Direktur
Permina untuk urusan perkapalan.
Dengan prestasi ini patut dicatat
dalam buku rekor bahwa Wiweko sebagai orang Asia pertama yang terbang
terbang seorang diri melintasi Samudera Pasifik dari Oakland Amerika ke
Jakarta menggunakan pesawat Beechcraft Super H-18 pada tahun 1966.
Pada bulan September 1977, saat
mengunjungi pabrik Airbus di Balgnac, Wiweko diberi kesempatan mencoba
menerbangkan A300. Sebagai tamu penting, Wiweko diberi kehormatan duduk
di kursi kiri, sebagai captain pilot. Sedangkan di sebelah kanan sebagai
kopilot adalah chief pilot Airbus, Pierre Baud. Di belakang, menghadap
ke samping ada seorang flight engineer.
Pada waktu itu Wiweko belum memiliki
type rating pesawat besar. Namun Wiweko memiliki rating beberapa pesawat
dan helikopter, diantaranya pesawat B-25 dan helikopter Hiller 360.
A300 yang diterbangkan Wiweko
benar-benar kosong. Belum ada langit-langitnya, tidak ada kursi dan
masih terlihat kabel-kabel serta kerangka pesawat. Wiweko melakukan
beberapa kali pendaratan touch-and-go. Kemudian gantian Pierre Baud
mendemonstrasikan touch-and-go dengan bantuan komputer. Tampaknya Wiweko
terkesan dengan kemudahan menerbangkan pesawat tersebut, terutama
karena ada bantuan komputer. Wiweko juga terkesan dengan kemudahan
prosedur mematikan komputer setelah mendarat.
Pierre Baud melontarkan pertanyaan.
”Komodor Wiweko, bagaimana pendapat anda mengenai A300?” Jawaban Wiweko
justru balik bertanya, “Apa kerjanya orang yang duduk di belakang saya
itu?”
“Dia adalah flight engineer…,” Jawab Pierre Baud.
“Itu saya sudah tau, tapi apa kerjanya?” tegas Wiweko.
“Itu saya sudah tau, tapi apa kerjanya?” tegas Wiweko.
Akhirnya Roger Beteille sebagai
penggagas A300 buka kartu. Menurutya, sebetulnya Flight Engineer tidak
diperlukan karena kokpit serba otomatis. Namun kursi flight engineer
adalah konsensi dengan serikat buruh Eropa. Di samping itu, dunia
penerbangan belum bisa menerima apabila pesawat berbadan besar hanya
diawaki oleh dua pilot. Pesawat-pesawat besar milik pabrik kenamaan
Boeing, Lockheed, dan Douglas menggunakan tiga awak kokpit. Takut tidak
laku dipasaran, Airbus terpaksa mengekor penggunaan tiga awak kokpit,
walau sebenarnya tidak berguna.
Mengambil pengalaman pada DC-8, dan
pengalaman terbang solo melintas samudera Pasifik dengan pesawat
Beechcraft Super H-18 dari Auckland, Amerika ke Jakarta, Wiweko
berkesimpulan bahwa kokpit pesawat Airbus A300 cukup diawaki 2 orang
saja.
“Keluarkan kursi (Flight Engineer) dan
mari kita berunding mengenai pembelian pesawat,” ujar Wiweko tegas.
Beteille merasa terkejut, ketika Wiweko menyatakan akan membeli enam
pesawat dengan tiga opsi tambahan.
Roger Beteille, Executive Vice President
and General Manager Airbus Industrie, pernah melontarkan gagasan
pesawat Airbus kokpitnya diawaki 2 orang. Gagasannya mengambil dasar
pesawat dua awak buatan Perancis, Caravelle, tapi pasar saat
itu hanya mau menyerap pesawat badan lebar Boeing, McDonald Douglas dan
Lockheed yang kokpitnya tetap dilengkapi side-panel bagi flight engineer.
Sementara Wiweko di belahan Bumi lain, sudah mengambil langkah berani menuju ke arah two-man crew cockpit bagi
pesawat kapasitas besar. la juga pernah mengurangi jumlah awak kokpit
pesawat bermesin empat DC-8 buatan pabrik Amerika, McDonald Douglas,
dari 5 menjadi 3 orang. Alasan yang diberikan, pekerjaan flight radio operator dan navigator sudah tidak diperlukan lagi dalam pesawat, karena sudah tertangani oleh pilotnya.
Seketika itu Beteille seakan mendapat
durian runtuh. la menemukan seseorang dengan visi jauh ke depan yang
sama. Dan orang itu berada di hadapannya dalam sosok Wiweko Soepono,
asal negara berkembang tapi maju pemikiran dan pandangannya dalam
menerapkan teknologi mutakhir penerbangan.
“Saya langsung menerimanya dan
menawarkan kepada Komodor Wiweko untuk merancang dan mensertifikasi
versi Airbus A300 yang memenuhi syarat dan kehendaknya,” kenang Roger
Beteille mengenai hari bersejarah kelahiran two-man crew cockpit.
Dengan menghilangkan flight engineer dan
mengubah setting layout cockpit pesawat, maka diperoleh konsep FFCC
(Forward Facing Crew Cockpit) yang memungkinkan pesawat kelas jumbo
hanya diterbangkan oleh 2 awak pesawat. Konsep FFCC sangat ditentang
pada saat itu, baik di dalam maupun di luar negeri. Dunia penerbangan
dibuatnya gempar penuh dengan suara pro dan kontra atas kejutan yang
dibuat oleh Garuda Indonesian Airways dan Airbus Industrie.
Nadanya banyak yang menentang, termasuk
di Indonesia. “Mungkin karena FFCC lahir dari pemikiran seorang Wiweko,
sehingga pesawat besar yang hanya dikemudikan dua orang akan sangat
membahayakan penumpang, Media massa Indonesia ikut pula latah: “Jangan
nyawa penumpang dijadikan kelinci percobaan!”. Reaksi yang paling keras
datang dari Persatuan Pilot Belanda. Asosiasi tersebut mengajak para
rekan penerbang negara tetangganya untuk mengikuti jejaknya. Sebuah
harian di Hilversum tanggal 6 September 1979 menurunkan berita
besar-besaran mengecam two-man cockpit yang diprakarsai Garuda
Indonesia.
Begitu gencarnya kecaman terhadap awal
kehadiran pesawat badan lebar two-man cockpit ketika itu, tapi dengan
melajunya teknologi serta perkembangan pesat dunia, pesawat badan lebar
Boeing yang semula menentang akhirnya menggunakan teknologi ini pada
pesawat B-747 400 dan B-777.
Nama lain dari FFCC adalah glass-cockpit yang juga dikenal sebagai Garuda cockpit. Airbus Industrie kemudian memberi predikat kehormatan kepada Wiweko sebagai “Bapak Two-man Forward Facing Crew Cockpit” Tapi
ia menolak ketika Airbus menamakan kokpit ini sebagai “Wiweko Cockpit.”
Dengan rendah hati, ia meminta agar kokpit tersebut dinamakan sebagai
“Garuda Design Cockpit”. Tercatat Garuda Indonesia mengoperasikan 9
pesawat jenis ini (A 300 B4 FFCC), salah satunya jatuh di Sibolangit,
Sumatra Utara pada tahun 1997. Pada akhirnya untuk menyehatkan keuangan
perusahaan (dan mengikuti perkembangan teknologi), pesawat ini kemudian
dijual untuk menyehatkan perusahaan meskipun menurut R.J. Salatun,
setidaknya ada salah satu yang dipajang di museum.
Bahkan ia mengoreksi Pierre Baud, Chief Pilot Airbus yang menyebutkan: “Mr. Wiweko you have the honour to fly the ‘Wiweko Cockpit”‘ saat Wiweko masuk ke dalam kokpit A310, pesawat 2 awak full digital cockpit yang sekarang lebih dikenal dengan sebutan glass-cockpit, mengambil
dasar A300-B4 FFCC Garuda Indonesian Airways. Wiweko langsung
mengoreksi Baud dengan mengatakan, “Garuda Design Cockpit.” Saat itu
Desember 1984, Wiweko tengah pamitan pada Airbus setelah usai tugas
sebulan sebelumnya di Garuda Indonesia. Airbus A310 mulai melayani
penerbangan komersial tahun 1983, setahun setelah pesawat two-man cockpit A300-B4 Garuda mengudara melayani penumpang di Indonesia.
Far East Area Sales Manager Airbus Mr. Fritz Winkelmann mengatakan:
” We are proud that this type of aircraft has come to make use of an
idea originating from the mind of a son of Indonesia, combined with new
modern technology, which employs push button illuminated switches and
digital system. The Two man cockpit has become a reality and I believe
that this Garuda Design could become the choice of many airlines”. Two Man Cockpit tersebut merupakan cikal bakal semua cockpit berawak 2 sampai sekarang termasuk Airbus A380.
Kata-kata “It was Mr. Wiweko who gave birth to the two-man Forward Facing Crew Cockpit,” ujar
Fritz Winkelmann memproklamirkan kepada hadirin mengawali sambutan
utama dari Presiden Airbus Industrie Lathier, Direktur Utama Garuda
Wiweko Soepono dan key speaker Duta Besar Rl, Barli Halim pada acara penyerahan pesawat pertama Airbus A300-B4 FFCC (Forward Facing Crew Cockpit) kepada Garuda Indonesian Airways 18 Januari1982.
Kutipan Fritz Winkelmann, Far East Area Sales Manager Airbus Industrie, dikutip dari buku “Dari Blitar ke Kelas Dunia, Wiweko Soepono Membangun Penerbangan Indonesia” .
Namun yang mengejutkan adalah ketika
Wiweko Soepono menolak dengan halus kedudukan di Airbus Industrie yang
ditawarkan Roger Beteille, Executive Vice President/General Manager
Airbus. “Terima kasih penghargaan yang diberikan, tapi saya orang
Indonesia, ingin mengabdikan diri sepenuhnya bagi bangsa Indonesia,”
ucapnya menolak dengan halus tawaran yang disodorkan kepadanya.
Menjadi Direktur Utama Garuda
Suatu hari pada bulan Februari 1968,
Wiweko diminta menghadap Presiden Jendral Suharto memintanya menyehatkan
BUMN Garuda Indonesian Airways yang berada dalam kondisi hampir
bangkrut dengan armada yang terdiri dari 17 DC-3 Dakota, 8 Convair 340, 3
Lockheed Electra, 3 Convair 990-A, serta 1 DC-8. Dengan pengalamannya
selama memimpin Indonesian Airways di Myanmar, beliau melakukan
penyehatan perusahaan dan peremajaan armada dengan mengganti armada
dengan pesawat Fokker F27 dan Fokker F28. Jabatan Direktur Utama
dipegangnya selama 16 tahun, mulai 17 Februari 1968 hingga 17 November
1984. Mulai berumur 45 hingga 61 tahun, Wiweko memiliki rating dari
semua pesawat yang dimiliki oleh Garuda.
Wiweko berhasil membawa flag carrier
Indonesia memasuki pasar modal internasional. Garuda mendapat pinjaman
komersial oleh sebuah konsorsium bank yang dipimpin oleh The Chase
Manhattan Bank untuk pembelian sebuah pesawat Douglas DC-9. Pinjaman ini
sejak awal hingga akhir ditangani langsung oleh Garuda sendiri, tanpa
jaminan pemerintah. Sebagai jaminan terhadap pinjaman tersebut adalah
pesawat terbang yang dibelinya. Pesawat tersebut dibeli pada tahun 1972,
yakni tahun kebangkitan Garuda Indonesian Airways di bawah kepemimpinan
Wiweko Soepono. Pesawat kemudian diberi nama “Serayu” oleh Wiweko,
sebuah sungai yang mengalir di sepanjang Banyumas.
Sistem manajemennya yang ketat, berhasil
membangun sebuah penerbangan dengan armada jet terbesar di Asia
Tenggara tanpa subsidi pemerintah. Lisensi Airline Transport Pilot
(ATPL) dari AS diperolehnya tanggal 23 september 1977 dan ATPL RI
diperolehnya pada tanggal 1 Desember 1977.
Namun kebijakannya dibidang keuangan
yang dikenal pelit membuat dia begitu kurang disukai para pilot. Dengan
gaji sebesar Rp 59.000 saat itu, para pilot yang saat itu merasa kurang
melakukan tindakan yang dikenal dengan nama ngobyek atau freefrighter
(pilot mengadakan jasa kargo udara di luar kargo resmi). Wiweko bukan
tidak tutup mata dalam hal itu, sehingga pernah suatu saat Wiweko
memberikan nasihat kepada para pilot “Saya tahu bahwa gaji yang
diberikan sangat kurang, namun janganlah sekali-kali menjadi pencuri”.
Setelah R.A.J.Lumenta diangkat menjadi direktur utama, kondisi gaji
pilot berangsur angsur ditingkatkan.
Gayanya mengatur perusahaan cukup unik
dan keras. Banyak komentar mengenai gaya kepemimpinannya, namun Wiweko
memberi komentar, “Since my youth I’ve not been the most popular member
of the human race”.
Bintang Jasa Utama untuk Wiweko Soepono
Wiweko Soepono meninggal dunia di Rumah
Sakit St Carolus pada 8 September 2000 pukul 11.30, setelah dirawat
beberapa waktu akibat menderita sakit prostat. Setelah disemayamkan di
rumah duka Jalan Cianjur 24, Menteng, pukul 17.00, jenazah dikebumikan
di Pemakaman Umum Jeruk Purut, Cipete, Jakarta di sebelah makam
istrinya, Siti Aminah Mieke Wiweko, yang meninggal dua tahun sebelumnya.
Istri tercintanya, Siti Aminah Mieke
berpulang mendahuluinya pada tanggal 30 September 1998 di RS. Pelni Jati
Petamburan. Sejak saat itu Wiweko merasa kosong. Dua tahun kemudian,
Hari Jumat, 8 September 2000, Wiweko yang telah beberapa lama di rawat
di RS.St Carolus karena sakit prostat, menyusul berpulang ke Rahmatullah
pada pukul 11.30. Dua puluh empat jam terakhir Wiweko terus menerus
bertakbir “Allahu-Akbar”, lalu manusia udara sejati ini berpulang dengan
wajah tenang. Wiweko dilepas dengan upacara Kehormatan Militer penuh,
jasadnya diistirahatkan dekat istrinya Mieke, di TPU Jeruk Purut
Cipete. Bangsa dan Negara ini telah kehilangan salah satu putra
dirgantara terbaiknya.
Kunci sukses dan Pesan Wiweko
“People call him stubborn, proud, and aloof, an autocrat who runs the national airline as his personal fiefdom,”
tulis Purra. Memang dengan berpenampilan cenderung arrogant, Wiweko
mengundang pertanyaan apakah keberhasilannya mengelola Garuda yang tidak
segan menentang arus, karena latar belakang berpendidikan Barat di masa
remajanya?
“Kenyataannya memang orang Barat lebih
mudah mengenal watak dan kepribadiannya daripada orang Indonesia,”
Salman Hardani pernah menjelaskan. Mengenai ini, Wiweko menyangkal keras
prasangka tersebut ia menguraikan bahwa pendidikan Barat yang sempat
dienyamnya, hanyalah sekadar sarana mempertajam berfikir, sebagai
pelengkap.
“Saya diasuh dalam lingkungan keluarga
Jawa yang menempatkan nilai moral di atas kebendaan. Semenjak kecil saya
telah diakrabkan dengan rasa kebangsaan dan cinta Tanah Air. Rasa ini
masih teguh karena ditempa oleh perjuangan kemerdekaan di tahun 1945.
Inilah yang membentuk watak dan kepribadian saya,” ujar Wiweko (yang
lahir 18 Januari 1923 di Blitar).
Wiweko mereda kemudian membeberkan kunci suksesnya memimpin Garuda Indonesian Airways. “Kuncinya adalah daya pemupukan modal,” Menurut pendapat Wiweko Soepono, perusahaan model yang diperlukan negara berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan yang selalu berusaha meningkatkan daya pemumpukan modalnya.
Wiweko mereda kemudian membeberkan kunci suksesnya memimpin Garuda Indonesian Airways. “Kuncinya adalah daya pemupukan modal,” Menurut pendapat Wiweko Soepono, perusahaan model yang diperlukan negara berkembang seperti Indonesia adalah perusahaan yang selalu berusaha meningkatkan daya pemumpukan modalnya.
“Dalam perusahaan semacam itu,
diperlukan adanya sikap keprihatinan yang wajar dan semangat perjuangan,
sekalipun tidak perlu ekstrim atau berlebih-lebihan dalam austerity
akan sikap hematnya. ‘Yang penting adalah kebutuhan-kebutuhan dasar
terpenuhi secara wajar. Jangan dulu dipentingkan wants atau
keinginan-keinginan ekstra’ tegas Wiweko.
“Karena menurut visinya, sikap yang
terlalu mementingkan wants itu, pada akhirnya dapat merongrong atau
bahkan mengerosi modal dasarnya sendiri. Diibaratkan misalnya, jika
masyarakat hanya menikmati hidup dengan tingkat konsumsi tinggi seperti
di luar negeri dengan dibiayai dana minyak dan melupakan pemupukan
modal, maka pada akhirnya modal dasar itu akan habis. Lalu kita mau ke
mana, tanya Wiweko.”
Mungkin hanya suatu kebetulan
(co-incidence) saja, dengan perginya Wiweko Soepono, pesawat two-man
cockpit Airbus A300-B4 juga “menghilang” dari armada Garuda Indonesia
dijual. Apakah tidak sebaiknya, salah satu diantaranya dipertahankan,
dijadikan museum terbang sebagai pesawat badan lebar pertama dunia
diawaki oleh dua pilot guna mengenang pengagasnya, Wiweko Soepono, putra
Jawa Timur yang lahir di Blitar di tempat yang sama Anthony Fokker,
pembuat pesawat Fokker dan Bung Karno lahir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar